KARYANESIA.ID, KONKEP – SMP Negeri 3 Wawonii Tenggara, Kabupaten Konawe Kepulauan (Konkep), meluncurkan program Teras Literasi sebagai upaya memperkuat budaya membaca, meningkatkan kemampuan berpikir kritis, serta membentuk karakter peserta didik.
Peluncuran program tersebut berlangsung pada Rabu (12/8/2026) dan menjadi bagian dari komitmen sekolah dalam menciptakan ekosistem pembelajaran yang lebih terbuka, kreatif, dan menyenangkan bagi para siswa.
Teras Literasi tidak hanya dimaknai sebagai tempat membaca buku di luar ruang kelas, tetapi juga sebagai ruang belajar yang mendorong siswa untuk berdiskusi, mengembangkan imajinasi, mengolah informasi, serta berani menyampaikan pendapat.
Kegiatan tersebut turut menghadirkan Andi Diah Masita, Ketua Taman Baca Masyarakat (TBM) Provinsi Sulawesi Tenggara sekaligus Relawan Literasi Masyarakat (Relima) Perpusnas RI.
Dalam kegiatan itu, Andi Diah Masita menyampaikan materi mengenai pentingnya budaya membaca dalam membangun kemampuan berpikir kritis dan reflektif.
“Membaca adalah pemantik akal budi. Ia adalah stimulasi ampuh yang menyalakan saraf-saraf otak manusia untuk menyelami pemikiran secara lebih dalam, kritis, dan reflektif. Lewat membaca, kita melatih ketajaman analisis agar anak-anak kita tak mudah menelan mentah-mentah arus informasi di era yang riuh ini,” ujar Andi Diah Masita.
Suasana kegiatan semakin interaktif ketika Andi Diah mempraktikkan metode read aloud atau membaca nyaring. Dengan teknik tersebut, siswa diajak menikmati bacaan melalui intonasi, ekspresi, dan penghayatan sehingga kegiatan membaca berlangsung lebih menarik.
Selain itu, ia memperkenalkan fishbone diagram sebagai salah satu metode analisis visual untuk membantu siswa mengidentifikasi, menguraikan, dan memahami berbagai informasi yang terdapat dalam sebuah bacaan.
Menurutnya, Teras Literasi harus menjadi ruang yang mampu menumbuhkan minat baca sekaligus mengembangkan kemampuan berpikir dan kreativitas siswa.
Sementara itu, Kepala SMP Negeri 3 Wawonii Tenggara, Kasirun, S.Pd., menegaskan komitmen sekolah untuk terus mendukung peningkatan mutu pendidikan melalui penguatan literasi dan pembentukan karakter peserta didik.
Menurut Kasirun, peluncuran Teras Literasi merupakan langkah konkret sekolah dalam memperkuat kemampuan literasi dasar sekaligus membangun budaya belajar yang lebih inklusif.
“Peluncuran Teras Literasi ini adalah manifesto konkret kami untuk memperkuat literasi dasar dan memahat karakter siswa. Kami tegaskan, keterbatasan geografis Konawe Kepulauan bukan alasan untuk bersikap kerdil. SMPN 3 Wawonii Tenggara berkomitmen menghidupkan ekosistem belajar yang adaptif dan inklusif demi mencetak SDM unggul menuju cita-cita Wawonii Emas,” tegas Kasirun.
Hal senada disampaikan Wakil Kepala Sekolah Urusan Kurikulum, Jubirman, S.Pd. Ia menjelaskan bahwa Teras Literasi bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan bagian dari pengembangan kurikulum sekolah yang telah dirancang secara terintegrasi.
Menurut Jubirman, kegiatan belajar mengajar (KBM) di dalam kelas atau intrakurikuler memberikan fondasi teori, sedangkan kegiatan kokurikuler menjadi ruang bagi siswa untuk memperdalam pemahaman, memperluas perspektif, dan menguji relevansi pengetahuan dalam kehidupan nyata.
“Melalui Teras Literasi sebagai wadah kokurikuler, kami ingin memantik daya kritis siswa. Kami berharap anak-anak tidak hanya menjadi penghafal teks, tetapi juga penjelajah ilmu yang berani berpikir mendalam dan berwawasan luas,” terang Jubirman.
Sementara itu, Guru Bahasa Indonesia SMP Negeri 3 Wawonii Tenggara, Darmanto, S.Pd., menyatakan komitmennya untuk mengintegrasikan program Teras Literasi ke dalam pembelajaran Bahasa Indonesia.
Menurut Darmanto, literasi tidak boleh berhenti sebagai kegiatan tambahan atau gerakan seremonial semata. Teras sekolah, kata dia, dapat dimanfaatkan sebagai ruang belajar untuk membedah teks, mengembangkan gagasan, serta melatih keberanian siswa dalam menyampaikan pendapat.
“Literasi tidak boleh berhenti sebagai gerakan tempelan di luar jam pelajaran. Teras sekolah akan menjadi laboratorium bahasa tempat siswa membedah teks, mengolah ide, dan melatih keberanian berpendapat. Bahasa Indonesia bukan sekadar rumus tata bahasa, melainkan alat bagi siswa untuk merebut ruang berpikirnya,” ujar Darmanto.
Peluncuran Teras Literasi di SMP Negeri 3 Wawonii Tenggara diharapkan menjadi langkah berkelanjutan dalam membangun budaya membaca dan berpikir kritis di lingkungan sekolah, sekaligus membuka ruang bagi peserta didik untuk mengembangkan potensi, kreativitas, dan wawasan mereka.
Laporan: Husain




